Tidak sulit mencari tempat makan yang diberi nama Jo’Steak ini. Seantero komunitas, pasti sudah familiar dengan Ranch Market yang terletak di Jalan Raya Pejuangan. Nah, di samping supermarket itulah, resto ini berdiri.

Siang itu, sekitar pukul 1 siang, matahari sedang terik bersinar. Setelah memarkirkan kendaraan, AdInfo langsung bergegas menemui pemilik Jo’Steak, Rizal Prakarsa. Saat ditemui, Rizal langsung banyak bercerita tentang restorannya yang mengusung menu-menu western.
Sebelum dibuka di tempat ini, Jo’Steak sendiri pernah 2 tahun bertengger di wilayah Kemang. Karena pertimbangan masih sedikitnya restoran yang menawarkan menu-menu western di lokasinya sekarang, Rizal pun memberanikan diri untuk membuka Jo’Steak di komunitas kita. “Marketnya pun sepertinya lebih banyak di sini,” kata Rizal.
Tempat makan ini tidak begitu besar. Kapasitasnya sekitar 40 orang. Tapi, sejenak melangkahkan kaki kita ke dalam, suasananya terasa nyaman dan tenang. Meski di luar banyak lalu lalang kendaraan, tapi tidak menggangu kenyamanan kita di dalam.
Interiornya dibuat tidak terlalu mencolok dengan furnitur yang terkesan klasik. Paduan warna langit dan coklat menghiasi tempat makan ini berpadu dengan tanaman rambat artifisial di beberapa langit-langit ruangan.
Dalam menjalankan bisnis ini, Rizal tidak berpangku tangan dengan chef-nya. Dirinya sendiri ternyata mampu untuk membuat resep-resep menu western yang ada di restorannya. Untuk resep dan sauce steak, misalnya. Rizal membuatnya sendiri.
“Saya 8 tahun tinggal di Amerika. Di sana saya sering mencoba resep-resep steak dengan bahan baku dari sana. Setelah mencoba-coba, akhirnya saya bisa membuatnya sendiri,” ucap Rizal.
Begitu juga dengan Spagheti Jo’Steak, Rizal belajar langsung dengan orang Itali yang memang jago masak menu khas negara tersebut.

Menu
Berbagai menu western disediakan tempat makan ini. Mulai aneka steak, grilled, spagheti, burger, sandwich, sampai bermacam minuman. Tapi, yang menjadi menu unggulan Jo’Steak adalah steak dan grilled.
Menu steak yang tersedia di antaranya, Special Cut Sirloin, ¼ kg Supercut Sirloin, Australian Sirloin, Australian Rib Eye, Australian Tenderloin, ¼ kg Australian Sirloin, dan Super Cut.
Dari sekian banyak menu tersebut, Super Cut adalah yang dibilang favorit. Rasanya beda dengan steak biasanya. “Ada rasa yang berbeda. Tampilannya pun lain dengan taburan bumbu-bumbu yang saya rahasiakan,” ujar Rizal.
Memang kalau dilihat tampilannya di meja makan, steak ini seperti ditaburi bumbu-bumbu tertentu berwarna kuning.
Seperti steak lainnya, potongan daging panggang ini pun “ditemani” dengan mash/french potato, sayur, salad, dan onion ring.
Pemilihan bahan baku daging bisa dibilang bagus. Karena ketika dipotong atau digigit, tidak terasa alot atau keras karena serat dagingnya memang sedikit.
Rasanya cukup lezat dan gurih. Cita rasa daging asap terasa sekali. Apalagi kalau disiram sauce yang bisa dipilih antara Mushroom Sauce atau Black Pepper Sauce. “Kalau memang suka pedas, bisa pilih Black Pepper Sauce,” ujar Rizal.
Tingkat kematangan daging pun bisa dipilih, ½ matang atau ¾ matang. Sebagian besar orang yang makan di tempat ini lebih memilih ¾ matang atau medium well.
Tapi sayangnya, Jo’Steak tidak menempatkan steak di atas hot plate. Jadi, kita tidak bisa berlama-lama menyantapnya kalau tidak ingin steak-nya menjadi dingin. Namun, Rizal memiliki alasan tersendiri kenapa tidak menggunakan hot plate, melainkan piring putih biasa.
“Kalau kita menggunakan hot plate, steak yang ½ matang, malah bisa matang nantinya. Lagi pula di Amerika sendiri tidak ada yang memakai hot plate,” katanya.
Harga steak yang disediakan tergolong lebih murah. Kisarannya dari Rp 35 – 99 ribu.
Selain daging, Jo’Steak juga menyediakan ikan dan ayam grilled dalam menunya. Di antara yang menjadi favorit adalah JJ Gindara dan Norway Salmon yang dimasak dengan resep dari Itali.
Cara membuatnya dengan memberikan bumbu-bumbu yang terbuat dari bawang merah, paprika, olive oil, dan jeruk lemon. “Bumbu tersebut dikasih sebelum dan ketika dibakar. Penyajiannya sama dengan steak dan dimakan dengan mushroom sauce atau black peper sauce,” terang Rizal.
Bila dibandingkan, JJ Gindara dan Norway Salmon, rasanya lebih enak Norway Salmon yang memang merupakan ikan impor. Harga JJ Gindara Grilled Rp 35 ribu dan Norway Salmon Grilled Rp 55 ribu.
Jo’Steak buka setiap hari pukul 11.00 – 22.00 dan melayani pesan antar dengan minimum order Rp 50 ribu untuk wilayah Puri, Kedoya, Meruya, Green Garden, Interkon, Kebon jeruk, dan sekitarnya.

Continue..

Filed Under:


Kawasan perumahan Greenville tidak jauh berbeda dengan Jalan Pesanggrahan. Di sana, cukup banyak tempat makan dengan berbagai cita rasa. Tapi sepertinya, di kawasan tersebut, belum ada resto yang menyediakan menu khusus spesialis western seperti steak ataupun barbeque ribs .

Bila menelusuri jalan tersebut, dulu pernah ada Battle Stream game online. Di sana biasa berkumpul anak-anak muda yang senang bermain internet game. Tapi belakangan, tempat tersebut ditutup dan dijadikan rumah makan dengan nama B’Steak.
Nah, rumah makan inilah yang menurut pemiliknya, adalah salah satu tempat di kawasan tersebut yang menyediakan menu “barat” berkualitas impor dengan harga terjangkau.

Bila menyebut menu western food, tentunya kita tidak bisa terlepas dari barbeque ribs dan steak. Begitu juga dengan B’steak yang memiliki menu spesial Rib Eye Steak dan BBQ Ribs.
Sesuai dengan namanya, BBQ Ribs terbuat dari daging tulang rusuk sapi asal Australia yang disajikan dengan saos Smoky Texas BBQ.
Memang benar, ketika AdInfo disajikan hidangan tersebut, potongan daging rusuk tersebut terlihat cukup besar dan menggiurkan. Apalagi melihat lelehan saos Smocky Texas BBQ racikan B’steak, sangat menggugah selera untuk langsung menyantapnya.
Satu porsi BBQ Ribs dilengkapi dengan side dishes kentang yang bisa dipilih sesuai selera. Antara lain French Fries (kentang goreng), Mesh Potato (kentang yang ditumbuk halus), Potato Wedges(kentang yang digoreng beserta kulitnya).
Di samping itu, ada pula salad segar seperti daun selada, irisan wortel dan kol merah yang disiram dengan saos Thousand Island, juga potongan sayuran jagung, buncis, wortel dan bawang Bombay yang dimasak dengan mentega untuk melengkapi cita rasa BBQ Ribs tersebut.
Rasa daging panggang yang lezat sangat terasa ketika menikmati menu ini. Selain dagingnya mudah digigit dan empuk, saos BBQ-nya juga sangat terasa dalam setiap gigitan.

Rib Eye Steak
Menu daging panggang yang satu ini tidak jauh beda dengan menu di atas. Cara memasaknya dengan dibakar atau dikenal dengan barbeque. Hanya saja, Rib Eye Steak adalah potongan daging tanpa tulang atau biasa dikenal dengan istilah steak.
Ketika AdInfo mencobanya, BBQ Ribs disajikan dengan saos Sumatera Flavour Black Pepper yang rasanya cukup pedas. Irisan besar daging sapi panggang ini sangat menawan. Apalagi kalau melihat lelehan saos berwarna coklat yang terdapat banyak butiran lada hitamnya. Perut langsung “keroncongan”.
Potongan demi potongan daging dirasakan sangat lezat dan karakter daging bakarnya terasa sekali. Daging sapi yang digunakan pun tidak keras, melainkan sangat empuk digigit, karena jenis daging yang digunakan adalah prime New Zealand Beef.
Seperti menu sebelumnya, Rib Eye Steak juga dilengkapi dengan salad ,sayuran dan kentang yang macamnya bisa dipilih sendiri.
Selain saos Sumatra Flavour black pepper, B’steak juga menyediakan berbagai pilihan saos yang menggugah selera antara lain, Wild Mushroom Cream Sauce yang terbuat dari campuran jamur liar, Smoky Texas BBQ Sauce yang merupakan saos BBQ dengan rasa asam dan manis, serta Old Fashioned Gravy yang merupakan saos tradisional western.

Continue..

Filed Under:


Lidah orang-orang Asia memang berbeda dari bangsa Eropa. Sudah lama tinggal di Eropa bukan jaminan orang-orang Asia itu bisa menikmati makanan khas Barat atau sebaliknya. Hal inilah yang membuat sebagian resto hadir dengan menyediakan 3 jenis menu sekaligus yakni menu Indonesia, Eropa dan Chiness food.

KAYUMANIS merupakan salah satunya. Resto yang berlokasi di Jalan Pesangrahan ini menyediakan ragam jenis menu dari 3 negara yang berbeda. Selain menu-menu dari negara sendiri (Indonesia), Resto KayuManis juga menyediakan menu ala Eropa dan China. Perpaduan ketiga menu tersebut mempunyai keunggulan masing-masing. Misalkan untuk menu Indonesia, tersedia sop buntut. Sedangkan menu ala Eropa dengan Fried Breast Chiken ala Marynade.

Resto KAYUMANIS menurut pemiliknya, Lanny Prabaraharja, menyediakan menu yang sangat lengkap. Mulai dari western, Indonesian Food hingga Chinesse food. Hal ini menjadikan para pelanggan yang ingin menikmati menu negara yang berbeda bisa langsung ke tempat ini tanpa harus beranjak ke resto lain.

Selain itu, tambah Lanny, dirinya juga mengambil konsep baru sebuah tempat makan dengan memadukan showroom furnitur-interior. Nikmati berbagai menu dengan sajian mata aneka macam disain furnitur, terutama furnitur rumah tinggal. Konsep tersebut disajikan karena tempat usahanya yang luas dan juga agar orang yang makan bisa melihat-lihat berbagai furnitur dengan sentuhan seninya.

Restoran KAYUMANIS menyajikan menu-menu yang katanya masakan khas Indonesia peranakan. Artinya, masakannya merupakan racikan cita rasa China dengan bumbu dan cara memasak melayu serta beberapanya dipengaruhi makanan “Hollanda” seperti, Beef Galantin KayuManis, Steak Lidah, Chicken Steak, Huzarenzla atau Selat Segar Solo.

Sop Buntut Koki Hotel Bintang Lima
KAYUMANIS memiliki menu andalan seperti, Sop Buntut, Gurame Soya Kayu Manis, Udang Goreng Kremes Cabe, Ayam Bakar Klaten, dan Sop Buntut ala Borobudur yang rasanya dijamin enak karena diolah oleh koki-koki alumni restoran hotel berbintang.

Bicara tentang koki, salah satu koki Resto KAYUMANIS, Saryono menuturkan, dirinya sudah lebih dari 20 tahun menjadi seorang koki. Dirinya mengaku sebagai jebolan koki di restoran berbintang lima di Jakarta.
“Sekitar tahun 70 an, ada salah satu resto hotel berbintang lima yang sangat terkenal dengan menu sop buntutnya. Salah satu koki dari pembuat sop buntut di hotel tersebut itu adalah saya,” ujar Saryono.

Bicara tentang rasa sop buntut olahannya, Saryono menuturkan bahwa olahannya tidak berbeda dengan yang ada di hotel yang tadi saya ceritakan. Rasa buntutnya sangat terasa karena menggunakan buntut sapi lokal yang rasanya lebih nikmat jika dibandingkan dengan buntut sapi impor.

Tapi, tampilannya sedikit beda. Sop Buntut ala Resto KAYUMANIS kuahnya agak bening dan tidak berlemak. Ini membuat penikmatnya tidak perlu takut dengan kolesterol.

Cara pengolahnnya, tambah Saryono, buntut sapi terlebih dahulu direbus hingga panas. Ini dilakukan hingga 3 kali untuk menghilangkan kotoran. Setelah dirasa cukup, buntut yang sudah direbus airnya, diganti dengan air baru yang telah diberikan bumbu racikan ala Resto KAYUMANIS.

Setelah itu, lanjutnya, sop buntut biasanya dihidangkan bersama garnis yang di antaranya wortel, kentang, daun bawang, daun sledri, tomat dan emping. Selain itu, sebagai pelengkap tersedia pula sambel dan acar.

Sop Buntut tersedia dengan 3 pilihan. Ada Sop Buntut kuah, goreng dan bakar. Bedanya, jika kuah, buntut dan kuahnya dijadikan satu dengan harga Rp26 ribu/porsi. Sedangkan jika goreng, buntutnya terlebih dahulu digoreng dan kuahnya di hidangkan secara terpisah. Ini sama dengan yang dibakar dengan harga Rp27 ribu/porsi.

Continue..

Filed Under: